Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Sunday, July 17, 2011

POLITIK PENDIDIKAN KOLONIAL BELANDA DAN LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DIKEMBANGKANNYA DI INDONESIA


1.      Politik Pendidikan

VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) adalah suatu perusahaan dagang yang mempunyai tujuan komersial dengan mencari keuntungan secara besar-besaran untuk kepentingan Belanda. Pada abad 17 dan 18 di Belanda segala kegiatan yang menyangkut bidang pendidikan dan pengajaran dilaksanakan oleh lembaga-lembaga keagamaan, sedangkan pemerintah tidak ikut campur tangan langsung dalam penyelenggaraannya sehingga gereja mempunyai kebebasan yang besar dalam bidang pendidikan. 

Pada masa kolonial Belanda di Indonesia penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran masih tetap dilakukan dikalangan agama, tapi mereka merupakan pegawai-pegawai VOC. 

VOC sangat memerlukan tenaga-tenaga pembantuk yang murah dari penduduk pribumi, sehingga penduduk pribumi tersebut perlu diberikan pendidikan untuk dapat menjalankan tugasnya. Yang memberikan pengajaran dan pendidikan pada mereka adalah orang-orang dari kalangan gereja, maka tidak mengherankan pendidikan VOC adalah agama nasrani (protestan). 

Pada waktu VOC merebut Maluku dari tangan Portugis, sekolah-sekolah dan gereja-gereja Roma-Khatolik ditutup dan pendirinya di usir, sebagai penggantinya dibuka sekolah dan gereja protestan. 

Pada waktu pertama kali kolonial Belanda datang ke Indonesia, mereka langsung menuju kepada sumber-sumber kekayaan bagi pasaran dunia yaitu Kep. Maluku. Dan Bangsa Belanda mengusir Portugis yang ada di sana, sehingga Belanda (VOC) berkuasa mutlak dan mulai mengatur perdagangan dan kehidupan masyarakat di sana. Dalam bidang pendidikan selain Belanda (VOC) mengambil alih bekas lembaga-lembaga pendidikan Portugis juga mendirikan sekolah-sekolah baru. Belanda (VOC) tersebut juga menyebarkan agama Kristen-Protestannya dan sekolah-sekolah juga didirikan atas pola tersebut. 

Di Ambon dan sekitarnya pada tahun 1645 terdapat 33 sekolah dan 1300 murid dan pada tahun 1708 jumlah muridnya meningkat menjadi 3966 jiwa. 

Pada abad ke-18 VOC meluaskan jangkauan wilayah pendidikannya sejalan dengan perluasan daerah pengaruhnya. Namun mereka membatasi diri dari wilayah kekuasaan Portugis dan Spanyol. Daerah pendidikan VOC meluas ke pulau Timor (1701), Sawu (1756), kei (1635), Kepulauan Aru (1710), Pulau-pulau Kisar, Wettar, Damar, dan Letti (1700).

Di Sumatera, Jawa dan Sulawesi selatan VOC tidak mengadakan langsung dengan penduduk tetapi melalui Sultan, Raja, atau penguasa daerah. Dengan demikian daerah tersebut tidak terdapat system pendidikan VOC, kecuali istana, pelabuhan dan benteng-benteng yang dijadikan basis. Penyelengaraannya juga khusus untuk orang-orang VOC dan pegawai-pegawainya. Sekolah yang pertama kali didirikan di Jakarta (Batavia) pada tahun 1617, 1636 sudah menjadi 3 sekolah dan diperluas terus sehingga jumlah murid semakin banyak.

2.      Lembaga-Lembaga Pendidikan yang Dikembangkannya

a.      Pendidikan Dasar 

System persekolahan kekuasaan VOC didasarkan dan dilakukan oleh orang-orang dari kalangan agama, dengan sendirinya sekolah-sekolah mempunyai cirri-ciri dan corak agama (Kristen). Sekolah pertama yang didirikan di Jakarta pada tahun 1617 menjadi sekolah “Betawi” (Batavische School). Dan pada tahun 1630 berdiri pula sekolah warga Negara (Burger School). Sekolah-sekolah tersebut bersifat pendidikan dasar dengan tujuan untuk mendidik budi pekerti, demikian pula dengan sekolah-sekolah yang ada di wilayah kekuasaan VOC di Indonesia bagian timur bersifat pendidikan dasar dan bercorak agama.

Tahun 1778 terdapat peraturan mengenai system klasifikasi. Kelas dibagi 3 sesuai dengan kepandaiannya dan kemampuan murid. Kelas 1/tertinggi mata pelajarannya terdiri dari membaca, menulis, pelajaran agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya sama dengan kelas 1 tapi tanpa berhitung dan kelas 3 diberi mata pelajaran ABC dan mengeja kata-kata.

b.      Sekolah Latin

System persekolah ini dimuali dengan cara numpang tinggal (“ in de kost”) di rumah seorang pendeta. Dengan adanya biaya menumpang 12 murid keturunan Belanda dan Indo pada tahun 1642 mulai diajarkan bahasa Latin. Jenis sekolah ini sempat berkembang sebentar, tapi tahun 1651 sudah mulai menyusut sehingga akhirnya ditutup (1656). Pada tahun 1666 sekolah Latin dibuka kembali tapi hanya bisa bertaha selama 4 tahun. 

Selain bahasa Belanda, Bahasa latin juga merupakan mata pelajaran utama. Jam pelajarannya tiap hari antara 06.30-08.00 dan 09.00-11.00 serta 02.00-04.00 kecuali rabu dan sabtu siang diberikan pelajaran agama. Murid-muridnya diharuskan menggunakan bahas latin dalam berbicara.

c.       Seminarium Theologicum

Pemerintahan VOC mengganggap perlu membuka seminarium untuk mendidik calon-calon pendeta. Hal ini sangat penting karena mereka nantinya akan menjadi seorang pendeta dan guru. 

Seminarium ini diciptakan oleh Gubernur Jendral Van Imhoff didirikan pada tahun 1745 di Jakarta. Murid-muridnya diasramakan dan diajar selama lima setengah jam sehari. Setelah berjalan selama 10 tahun sekolah ini terpaksa ditutup karena lulusannya terlampau sedikit.

Syarat penerimaannya adalah anak-anak berusia 8-12 tahun dan diasramakan. Jam pelajarannya yakni 06.30-11.00 dan 03.00-05.00. sekolahnya dibagi dalam 4 kelas. Kelas 1 mata pelajarannya yaitu membaca, menulis bahasa Belanda, Melayu , Portugis dan dasar-dasar agama Kristen. Pada kelas 2 ditambah bahasa Latin, pada kelas 3 ditambah bahasa Yunani dan Yahudi, filsafat, sejarah, ilmu purbakala dan lain-lain. Pada kelas 4 semua mata pelajarannya diperdalam oleh rektornya (kepala sekolah).

d.      Akademi Pelayaran (Academie der Marine)

Van Imhoff juga mendirikan akademi pelayaran dengan tujuan untuk melatih dan mendidik calon perwira pelayaran. Lembaga ini didirikan tahun 1743 dan ditutup tahun 1755 oleh Gubernur Jenderal Mossel karena lulusannya sedikit, sehingga biaya ekspoitasinya menjadi mahal.

 Syarat penerimanya adalah seseorang yang berumur 12-14 tahun dan beragama Kristen-protestan. Dalam seminggu ada 4 hari belajar mulai jam 7-8 (matematika dan berhitung), jam 8-9 (bahasa Latin dan bahasa Timur (Melayu, Malabar dan Persia)), jam 9-11 (navigasi dan menulis), jam 11-12 (menggambar), jam 2-3 siang (menulis, berhitung dan matematika) jam 3-5 sore (navigasi). Hari rabu dan sabtu untuk pelajaran agama, naik kuda, anggar dan dansa. Pendidikannya selama 6 tahun dan selama pendidikan tidak diperbolehkan menggunakan bahasa melayu.

e.      Sekolah Cina

Agar keturunan cina juga mendapatkan kesempatan dalam pendidikan maka didirikanlah sekolah untuk anak-anak cina yang miskinsekolah ini tidak berfungsi setelah peristiwa 1740 (“de Chineezenmoord”=pembunuhan cina). Tahun 1753 dan 1787 sekolah semacam ini didirikan lagi dengan biaya masyarakat cina sendiri dan pendidikan ini berada dibawah lembaga swasta.

            VOC tidak ikut campur dalam urusan kurikulum dalam sekolah cina yang diselenggarakan oleh pihak swasta dari kalangan masyarakat cina itu sendiri. Bahkan dalam kegiatan keagamaannyapun VOC tidak ikut campur tangan.


Friday, May 6, 2011

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN


A.     Aliran Klasik
Yang termasuk aliran klasik yaitu : 
1.  Aliran Empirisme
    Empirisme berasal dari bahasa latin, asal katanya empiri yang berarti pengalaman. Aliran ini dipelopori oleh John Locke (1632-1704), filosof kebangsaan Inggris, yang terkenal dengan teorinya “Jabularasa” (meja berlapis lilin yang belum ada tulisannya di atasnya. Dengan kata lain, seseorang yang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulis, maka pendidikan yang akan menulisnya.

    Menurut konsepsi empirisme ini, pendidikan adalah peran yang paling penting membentuk anak didik menjadi apa yang diinginkannya. Menurut John Lucke (dalam Bleshen, 1970) hal-hal yang perlu diperlukan dalam pendidikan adalah :
    a.       Pendidikan harus diberi sejak awal mungkin.
    b.      Pembiasaan dan latihan lebih penting dari pada peraturan, perintah atau nasehat.
    c.       Anak didik harus diamati lebih dekat untuk melihat :
    1)      Apa yang tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya.
    2)      Hasrat-hasrat apa yanga sangat kuat.
    3)      Kecendrungannya mengikuti orang tua tanpa merusak semangat anak itu.
    d.      Anak harus dianggap makhluk rasional.
    e.       Pelajaran disekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak, namun hendaknya menyenangkan dan merupakan suasana kemarin.

    2. Aliran Nativisme
      Nativisme berasal dari bahasa latin, asal kata “natives“ berarti terlahir. Aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer (Jerman). Dia berpendapat “pendidikan ialah membiarkan seseorang tumbuh berdasarkan pembawaannya”.

      Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan dan pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Pendidikan yang diberika tidak sesuai dengan pembawaan seseorang, tidak aka nada gunanya untuk perkebangannya. Aliran ini disebut aliran pesimis.

      3. Aliran Nataralisme
        Nataralisme berasal dari bahasa latin, dari kata “nature” artiya alam, tabiat dan pembawaan. Pelopornya J.J Rousseau (1772-1778) (Peracis). Aliran ini dinamakan juga nagativisme ialah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.

        Ciri utama aliran ini ialah dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik itu supaya berkembang secara spontan. Kalau akan juga diberikan pendidikan hendaklah dikembangkan aturan-aturan masyarakat yang demokratis, sehingga kecendrungan alamiah anggota masyarakat dapat terwujud, untuk menjaga agar pembawaan seseorang yang baik itu tidak diragukan.

        Pelopor aliran ini memberi gagasan dalam bukunya yaitu “semua adalah baik dari tangan pencipta, semua menjadi buruk ditangan manusia”, maksudnya yaitu kodrat atau alam manusia adalah baik, masyarakat adalah buruk dan untuk memperbaiki kesusilaan, kebiasaan dalam masyarakat orang wajib kembali kealam atau kodrat.

        4. Aliran Konvergensi
          Konvergensi berasal dari bahasa inggris, asal katanya “Convergency” artinya pertemuan pada suatu titik. Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang ahli pendidikan bangsa Jerman dalam tahun 1871-1937. aliran ini mempertemukan dua aliran yang berlawanan antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung kepada pembawaan dan lingkungannya. Pembawaan seseorang baru berkembang karena pengaruh lingkungan.

          William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju satu titik pertemuan, sebagai berikut :

          Pembawaan
          Hasil pendidikan
          Lingkungan    

          Jadi menurut teori konvergensi :
          1)      Pendidikan mungkin dilaksanakan.
          2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan pada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang buruk.
          3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

          B.     Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Pendidikan di Indonesia Pemikiran dan Praktek
          Aliran Pendidikan klasik dikenal di Indonesia melalui upaya pendidikan, terutama disekolah Belanda pada masa penjajahan Belanda dan disusul oleh orang Indonesia yang belajar di Belanda pada masa penjajahan. Setelah kemerdekaan aliran pendidikan itu masuk ke Indonesia.

          Meskipun dalam hal tertentu sangat di utamakan bakat dan potensi anak, namun upaya penciptaan lingkungan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan di usahakan secara optimal. Dengan kata lain, meskipun pandangan empirisme dan natipisme tidak sepenuhnya ditolak, tapi penerimaan itu dilakukan dengan pendekatan eklektis fungsional yaitu diterima sesuai dengan kebutuhan, namun ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi.

          Khususnya dalam latar persekolahan, terdapat sejumlah penadapat yang lebih menginginkan agar peserta didik lebih ditempatkan pada posisi yang seharusnya, yakni sebagai manusia yang dapat dididik tapi juga dapat mendidik dirinya sendiri. Hubungan pendidik dan peserta didik seharusnya adalah hubungan yan setara antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembang dari yang lain, hubungan kesetaraan dalam interaks edukatif tersebut harus diarahkan menjadi suatu hubungan yang transksional, suatu hubungan antara pribadi yang memberi peluang baik peserta didik yang belajar mepun pendidik yang ikut belajar.

          Dalam UU-RI no.20 1989 tentang SISDIKNAS, peran peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya itu telah diakui dan dilindungi.

           
          Ping your blog, website, or RSS feed for Free
          Feedage Grade C rated
          Preview on Feedage: nail-art-polish-2012 Add to My Yahoo! Add to Google! Add to AOL! Add to MSN
          Subscribe in NewsGator Online Add to Netvibes Subscribe in Pakeflakes Subscribe in Bloglines Add to Alesti RSS Reader
          Add to Feedage.com Groups Add to Windows Live iPing-it Add to Feedage RSS Alerts Add To Fwicki